Senin, 05 Januari 2009

Korban Tewas Sudah 500 Orang Lebih


Hantaman rudal Israel di wilayah Gaza.

Liputan6.com, Gaza: Serangan militer Israel tidak menunjukkan tanda berkesudahan. Hingga Ahad (4/1), Israel terus melancarkan serangannya. Sementara korban warga Palestina diperkirakan terus bertambah. Lebih dari 500 orang tewas akibat gempuran yang sudah berlangsung selama sembilan hari tersebut. Ada sekitar 2.400 warga Jalur Gaza, Palestina, yang cedera.

Sejak kemarin, pasukan darat Israel mulai terlibat bentrokan bersenjata dengan pihak Hamas. Dibantu dengan tank, mereka terlibat pertempuran dengan pejuang Hamas yang menewaskan 31 warga sipil Palestina tewas. Sementara satu prajurit Israel dilaporkan juga menjadi korban dalam peristiwa ini [baca: Israel Memulai Serangan Darat].

Israel mengklaim telah membunuh belasan pejuang Hamas dalam sebuah bentrok bersenjata. Namun pejabat Gaza membantah dengan mengeluarkan jumlah korban di pihak Hamas hanya empat orang. Hamas juga mengeluarkan pernyataan jika pihaknya telah menahan dua serdadu Negeri Zionis, tapi pihak Israel langsung membantah klaim tersebut.

Kendati demikian, serangan Israel yang bertujuan mencegah serangan roket Hamas ke wilayah mereka terbukti gagal. Sebuah roket Hamas menghantam sebuah rumah di Sderot. Akibatnya seorang warga Israel cedera akibat hantaman roket tersebut [baca: Roket Hamas Dibalas Rudal Israel].

Serangan Israel yang terus menerpa Gaza membuat marah warga Palestina di wilayah Tepi Barat. Mereka pun menggelar aksi protes atas serangan tersebut. Terlebih, Israel telah melibatkan pasukan infanteri dalam agresi ke Palestina. Protes pun sempat berbuntut kerusuhan di Hebron serta di Beirut, Lebanon.

Di Hebron, kerusuhan pecah antara bocah Palestina yang berhadapan dengan pasukan Israel. Warga Palestina yang tergolong masih di bawah umur ini melemparkan batu ke arah tentara Israel yang sedang berjaga-jaga di wilayah tersebut. Anak-anak Palestina yang hanya bersenjatakan batu ini harus menghadapi serdadu Israel yang menembak mereka dengan tembakan gas air mata.

Sementara di utara Beirut atau tepatnya di Dbayeh, Lebanon, sekitar 250 demonstran penentang serangan Israel berkumpul di depan Gedung Kedutaan Amerika Serikat. Pemrotes yang berasal dari Partai Komunis Lebanon mencoba untuk melewati barikade kawat berduri yang dipasang oleh polisi. Polisi Lebanon pun terpaksa menembakkan air tekanan tinggi serta gas air mata untuk membubarkan unjuk rasa ini.

Di tengah serbuan darat militer Israel ke Gaza, aksi menentang agresi militer Israel terus berlangsung di berbagai belahan dunia. Ribuan orang turun ke jalan di New York, Amerika Serikat, Sabtu silam. Pengunjuk rasa kembali menyuarakan kecamannya terhadap agresi Israel. Mereka pun menuntut Israel menghentikan serangan yang saat ini melibatkan pasukan darat.

Lain dari biasanya, demonstrasi kali ini tidak hanya digelar oleh kubu pengunjuk rasa yang memprotes agresi Israel, melainkan diikuti pula kelompok pendukung agresi. Pengunjuk rasa pro-Israel menuding Hamas telah menjadikan anak-anak sebagai tameng hidup.

Selain di New York, unjuk rasa mengutuk gempuran Israel juga berlangsung di Seattle, AS. Pengunjuk rasa yang memadati jalan-jalan di Kota West Coast mengutuk agresi Israel. Mereka sekaligus menuntut adanya gencatan senjata. Demonstrasi pun melaksanakan salat ghaib bagi para korban Palestina yang tewas.

Sementara di Melbourne, Australia, puluhan ribu orang turun ke jalan memprotes agresi Israel. Demonstran menuntut Israel segera mundur dari Gaza dan menghentikan agresinya. Namun dalam waktu bersamaan, unjuk rasa pendukung agresi Israel juga digelar. Sekitar seratus pengunjuk rasa pro-Israel mengecam Hamas yang mereka tuding sebagai penyebab serangan Israel. Meski digelar dalam waktu bersamaan, tidak terjadi bentrok kedua kelompok pengunjuk rasa karena pihak keamanan mencegah keduanya bertemu.

Di Paris, Prancis, ribuan warga berkumpul di Kedutaan Israel. Mereka datang bukan untuk menentang agresi Israel justru sebaliknya mereka mendukung serangan Israel ke wilayah Gaza. Unjuk rasa ini digelar Institusi Yahudi Prancis yang menilai operasi militer Israel memang tindakan tepat. Alasannya, berguna untuk mencegah pihak Hamas bertindak destruktif terhadap warga Israel.(ANS)

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini