Kamis, 21 Juni 2012

“Permainan” OKNUM Ikhwan dan Akhwat"

Essay ini adalah bentuk Shock Therapy terhadap manusia-manusia yang mengaku sebagai kader dakwah. Mereka yang masih berada di dunia kampus (Aktivis Kampus), dan di dunia di mana usia pernikahan sudah mendekat (Pasca Kampus).

Di sebuah negeri antah berantah, Allah menghendaki sebuah kampus di kota tersebut mencapai kefutuhan. BEM di kuasai, memiliki kader yang banyak dan tak ketinggalan legalisasi kampus terhadap organisasi ini telah didapat. Sehingga berbagai kegiatan begitu mudah mereka laksanakan tanpa aral melintang.

Teringat sebuah Taujih dari seorang Ustadzah (lupa namanya), dikatakan bahwasanya sebuah kampus ketika dalam perjalanan dakwah tidak mengalami cobaan yang melintang. Semua begitu mudah. Namun bukan berarti dakwah mereka baik-baik saja. Justru sebaliknya, dakwah seperti inilah yang bermasalah. Kenapa bermasalah, karena Fitrah atau Sunnatullah-nya sebuah pergerakan dakwah adalah besar dan beruntunnya cobaan yang menghalang mereka. Jadi banggalah bagi kita ketika dalam perjalanan dakwah ini, kita banyak menemukan aral melintang, namun ketika kita mampu melaluinya, maka akan Allah SWT naikkan derajat orang-orang yang di dalamnya. Tidak jarang, mereka yang merasa kampusnya tenang-tenang saja, menjadi ujub, sombong, dan syum’ah. Wallahu a’lam


Kampus ini sudah mengalami kefutuhan sangat lama. Kader mereka begitu banyak di setiap fakultas lebih 20 orang menjadi anggota inti. Kuantitas maju, tidak dibarengi dengan kualitas yang pas sesuai dengan manhaj yang mereka pegang.
Permainan Hati Aktivis Kampus
Dialog yang disampaikan salah satu MR-ku dulu.
“Ass.. Ukh, moga sehat ya, bisa datang syuro’ hari ini, semoga kesibukan anti tidak menghalangi anti untuk terus istiqomah berada di jalan dakwah ini. Sebagai sodara ana senantiasa mendo’akan saudara ana.” SMS dari seorang ikhwan.
“Wass, iya akh, jazakallah atas do’anya. Tapi ana agak sedikit sakit gigi nich, sudah minum obat padahal.” Balas si Akhwat.
“Hayyoo,, jarang sikat gini kali anti... heheh kidding” Balas si Ikhwan.
“He,, enak aja, antum kali yang jarang.. piss.” Balasnya kemudian..
Dan panjanglah malam itu SMS mereka. Saling menunggu jawaban satu sama lain. Kesan pertama tergoda syetan, selanjut terserah syetan.!!! Akhirnya mereka berdua benar-benar kesyetanan. Karena “permainan” itupun terjadi
Contoh kasus, adalah kampus di negeri antah berantah itu, entah bagaimana komunikasi mereka. Dengan jantan seorang ketua di salah satu fakultas (Ikhwan) menembak Akhwat untuk diajak menjadi bagian dari hidupnya, namun bukan untuk menikah, tapi HUBUNGAN TANPA STATUS karena PACARAN bagi mereka adalah HARAM. Begitulah pintarnya syaithan menganggu anak cucu Adam. Kalau seperti itu apa bedanya?
Kasus ini kasus klasik yang tak bisa terbantahkan, seorang Akhwat dengan pasrahnya “disetubuhi” oleh Ikhwan sehingga mengalami “kehamilan” dalam tanda kutip saya maksud adalah Inbox penuh dengan satu nama. Si Fulan.
Beranikah sang Ikhwan bertanggung jawab? Sangat sedikit yang berani, karena kasus persidangan masalah “permainan” ini, makhluk berlabel ikhwan ini selalu akan menyalahkan si Akhwat sebagai Starting Case. Dan jatuhlah harga diri akhwat tersebut semurah harga SMS yang dia berikan kepada si Ikhwan Rp. 88/SMS, nahasnya bila si Akhwat menggunakan fasilitas SMS GRATIS. Na’udzubillah, lebih murah dari pelacur yang bila short time mendapat Rp. 150.000,-. Duuuhh Syaithon, jangan sampai kau ganggu anak dan cucu kami kelak.


Pada suatu masa, penulis pernah mengirimkan sebuah SMS kepada seorang ustadz, karena kasus ini kembali terulang, Ikhwan memulai kalimat-kalimat canda ke dalam ponsel akhwat.
“Assalamu’alaykum, Ustadz, ana Fulan ingin bertanya, adakah toleransi terhadap ikhwan yang suka mecandai seorang akhwat melalui SMS, ana tidak mampu menegur, karena nantinya ana akan dinilai berlebihan (saklek), padahal kasus seperti ini bisa saja menjadi penghambat dakwah itu sendiri, jzk?” (Sent Item, 18.57)
“Waslm. Jangan memulai untuk melakukan kemaksiatan walau melalui SMS, sebab walaupun kecil akan menjadi dosa besar, karena bisa terjadi zina hati, serta ada kemubaziran, dikarenakan tidak pada tempatnya. Dalam agama tentu tidak dibolehkan, kalaupun dibolehkan sesuai kebutuhan (urgensinya) saja yang mendesak. Coba dibicarakan kembali di bidang kaderisasi agar ada kebijakan yang bisa dilakukan, wallahu a’lam”. (Ust. ***** *****.Lc, 19.10 WIB)



Beliau adalah sosok ustadz yang sangat tegas dalam kasus seperti ini. Dia pula yang menyampaikan bahaya SMS Tausyiah Ikhwan. Dengan nama lain Coklat bermerek Tausyiah (Salim.A.Fillah). Hati siapa yang tak terganggu? Sudah habiskah Ikhwan di muka bumi ini. Seorang Al Akh, yang saat ini berada di Malaysia mengatakan, Sesungguhnya Syaithon itu sangat pintar membantu manusia mencari alasan untuk pembenaran terhadap kemaksiatan hati yang dia lakukan. Kamu yang membaca ini salah satunya mungkin? Hayyoo.. pasti sedang mencari pembenaran, kan? Hati-hati, karena kelak Syaithon akan berlepas diri darimu, karena pada dasarnya ia sangat takut kepada Allah SWT.
Permainan Hati Aktivis Pasca Kampus
Seorang dosen mengatakan, bahwasanya The Real World adalah dunia pasca kampus. Di mana Konsentrasi mereka (Eks-Mahasiswa) akan terpecah, antara mencari ma’isyah (nafkah-kerja) dan menjaga keistiqomahan di jalan dakwah.


Rata-rata seorang lelaki lepas dari kampus paling muda usia 23an. Kemudian tiga sampai lima tahun pasca kampus, mereka akan dipusingkan bagaimana mendapatkan jodoh, dengan sistem yang serba “ribet”, menggunakan proposal dan tetekbengek lainnya.
Jujur penulis akui, sistem ini sangat baik dan sangat bagus. Tapi apakah relevan ditengah gejolak informasi yang begitu deras mengalir, sehingga ikut mengatur pola aliran energi ke otak, sehingga melahirkan pikiran-pikiran yang menganggu keistiqomahan seseorang. Berbagai keinginan muncul di kepala masing-masing manusia.


Karena sistem yang “ribet” inilah kemudian para da’i muda ini berubah menjadi “buaya” darat atau penulis punya istilah baru NELAYAN CINTA (menjelang Proposal turun, banyak ikhwan menjadi gatel menggoda akhwat). Mereka punya jaring bermerek Tausyiah dengan jalinan Taujih sebagai perangkapnya. Ketika ada yang tertangkap, maka sang Nelayan akan memeliharanya, dan kembali lagi “permainan” itu dimulai. Sang akhwat di prospek oleh sang ikhwan, sehingga HAL YANG TAK PERLU DIANGGAP PERLU. Tanpa melihat adakah Urgensi dari sapaan atau teguran yang dia berikan kepada si Akhwat? Akhwat yang sudah terkena jaringnya akan terus dijaga, dan makin terlena dengan perhatian makhluk melabeli diri sebagai seorang Da’i.
Di bawah ini ada tiga ceritaPermainan hati aktivis pasca kampus dari sumber yang berbeda, namun masalahnya sama.


Pertama, Seorang teman pernah curhat, ketika sehari setelah ijab qobul, istrinya memperlihatkan sebuah SMS dari seorang ikhwan yang sama-sama mereka kenal, ternyata menyimpan rasa dan akan melamar beberapa bulan ke depan. Sungguh, aku tidak tahu siapa orangnya, namun karena sang pengecut ini adalah senior kami berdua, tentu aku sangat marah. Jadi selama ini, apa tujuan beliau berada bersama-sama kami.


Kedua, suatu malam lebaran, seorang teman bersama temannya silaturahim ke rumah seorang ikhwan yang sudah berkeluarga. Setelah beberapa lama, munculah seorang muslimah dari balik tirai pintu pembatas ruang tamu dan ruang belakang dengan membawa makanan yang penuh barokah secukupnya. Panjang lebar kita berbincang-bincang. Dan tiba saatnya pulang. Ditengah perjalanan, di atas motor Sang ikhwan nyeletuk “Akh, antum liat akhwat tadi?” tanyanya. “Sekilaslah, kenapa akh?” tanya teman satu lagi. “Akhwat itu dulu pernah suka sama ana”. Jdeerrrr.....
Lagi dan lagi, ketika persidangan sebuah kasus, seorang ikhwan akan dengan mudah menyalahkan akhwat sebagai tokoh yang memulai. Dan yang satu ini, lagi-lagi seorang ikhwan mengeluarkan statement, yang entah apa yang akan terjadi, bila suami si Akhwat mendengar ini semua. Temanku hanya bisa beristighfar.


Ketiga, seorang istri berbincang-bincang dengan suami yang baru menikahinya beberapa hari. Dia mengatakan bahwa dia memiliki beberapa ikhwan nyebelin (black list), kemudian dia menunjukkan sebuah lagu dari seorang ikhwan sebelum mereka menikah. Sang suami mendengarkan dengan baik. Alangkah kagetnya beliau seorang ikhwan mengirimkan lagu bertemakan cinta kepada sang akhwat. Sang suami bertanya, kok bisa? Baca saja email balasan dari Bunga (bukan nama sebenarnya).
Ketika dibuka email itu, memang benar-benar aneh. Apa yang melandasi pengiriman lagu bertema cinta ini. Jadi ingat zaman dulu, ketika mengirim surat, kalimat terakhirnya “KALAU TIDAK SUKA DENGAN KEDATANGAN SURAT INI SILAKAN DISOBEK SAJA” tapi karena sekarang ini teknologi sudah maju, jadi penggalan akhir surat berbunyi “KALAU TIDAK SUKA DENGAN KIRIMAN INI DI-DELETE SAJA” via e-mail githu lho!


Ingin mencoba membahas ini di hadapan ustadz. Tapi sudahlah maklumin, karena umur-umur waktunya menikah namun belum juga bisa menikah, akibatnya menjadikan seseorang RAWAN GANJEN hingga cenderung MENIKMATI KEGENITANNYA, dan hilang akal sehatnya. Alasan khilaf dan mengaku bukan malaikat, tetapi di depan para ustadznya dan lainnya berlagak polos, hanif dan sholeh.
Istriku menjuluki oknum-oknum dalam kasus-kasus di atas adalah. Wajah ustadz Otak Daki. Don’t judge the book by its cover!! Hati-hati ikhwan, kena Black List akhwat and kemudian disebar ke akhwat lain. (Istriku en temen2nya punya Black List ikhwan)... Alhamdulillah, penulis gak kena ^_^


Demikianlah, tulisan yang bertujuan sebagai Shock Therapy untuk mereka-mereka yang berani bermain hati dan menikmati kegenitan-kegenitan diri. Tanpa disadari, justru ulah kita inilah dakwah menjadi terhambat, sehingga Allah SWT marah dan menunda kemenangan besar kita.
Mari bersama kita perbaiki diri, jadilah kita pionir untuk mengentaskan Qodhoyatul Ummah, jangan sampai justru kita yang menjadi penambah masalah ummat. Kita bersuara perbaikan akhlak, tapi akhlak kita masih akhlak orang munafik. Sholeh ketika bersama komunitas, namun di belakang komunitas kita berbuat kerusakan (fasad). Wallahu a’lam
Ana, Antum, Mereka, Kalian, Kita semua pasti bisa berubah!!! Aamiin
Telanaipura, 00.35 WIB (13-3-2010),
@Master Jambi

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini